Rabu, 26 April 2017

            Yap, apa yang ente rasain kalau suatu ketika usaha ente kandas dengan sia-sia. Memulai dari awal bukan solusinya. Karna yang udah ente usahain berbeda dengan ketika ente memulai usaha dagang kemudian kandas di tengah jalan. Buat ane lebih dari itu. Bahkan juga lebih dari seorang pelukis yang kehilangan lukisannya sebelum dilihat orang-orang. Seniman ukir yang mematahkan patung ukirannya sendiri. Sama dengan yang ane lakuin saat ini, ini berhubung dengan tulisan ane. Naskah yang sudah ane susun berbulan-bulan. Ah, jika diingat ingin rasanya keluar dari persembunyian, lari-lari ke tengah jalanan, menuju pasar teriak-teriak, dilihatin orang, dan sesampai rumah nangis kencang-kencang. Parahnya, semua itu belum mampu ngilangin rasa sakit yang melanda dada ini. Semua tidak akan kembali, tidak akan kembali lagi.
            Ane mengingatnya. Malam-malam telah ane lalui bersama. Ane yang seringkali tidur pukul delapan kemudian jam sebelas or dua belas ke atas terbangun dan tidur lagi setelah ayam berkokok, memasuki jam empat. Sholat subuh, terus melanjutkan hari yang baru. Kadang ane memulainya dengan kembali membuka naskah itu. Naskah yang hilang itu. Yah, sulit sekali diceritakan.
            Ane tau pada posisi ini bukan cuma ane yang mengalami. Ane pernah juga membaca curahan seorang blogger yang akunnya tiba-tiba hilang dan tidak bisa dibuka lagi. Padahal sudah banyak tulisan yang ia sharing di dalamnya. Dalam hal itu sedikitnya bisa membuat ane lebih baik. Bahwa, tidak ada yang abadi di dunia ini.
            Walau, tetap saja. Di saat ane sendiri, mengenang saat-saat ane bersama menciptakan naskah itu, hati ane sakit banget. Entah sakit mana bila dengan putus cinta. Naskah yang ane persembahkan kepada sang idola tiba-tiba hilang menjadi layar kosong. Kalian mungkin nanya, gimana bisa hilang? Jawabannya, karna ane lagi gak teliti. Ane pergi nginstall ulang laptop ane ke tempat service komputer. Dokumen-dokumen yang ane anggap penting termasuk tulisan-tulisan tetek bengek ane, ane pindahan ke flashdisc buat sementara. Ane gak ngecek lagi semua dokumen penting ane udah ane pindahan semua apa belum. Seingat ane, ane udah mengkopi semua data di dokumen, juga file lagu, foto, film-film kesukaan, dan tulisan yang sudah berbentuk e-book. Terus beberapa minggu kemudian, saat ane nyari sebuah dokumen berbentuk naskah, ane gak nemuin. Ane cari-cari di folder lain juga gak ada. Yang nyari, sih mata dan jari-jari ane doang. Alhasil ane baru yakin, ane lupa mengkopi naskah itu yang ane kira udah terkopi semua. Memang, file naskah di microsoft ane cukup banyak. Ada juga yang isinya cuma satu paragraf, masih ane simpan dan gak ane apus. Ane suka ngumpulin tulisan-tulisan menjadi berceceran menjadi beberapa file yang terpisah. Misalnya, naskah puisi, puisi lama, puisi baru, puisi galau. Naskah cerpen, cerpen semasa sekolah dulu, cerpen buat cadangan dikirim ke surat kabar, cerpen lomba. Padahal bisa satu folder dengan judul berbeda. Yah, itulah manusia. Selalu menyesali setelah semuanya terjadi.
            Ini bukan yang pertama. Dulu, waktu re-install laptop yang pertama kali, ane juga mengalami hal yang sama. Waktu itu ane baru belajar bikin novel. Mungkin udah rampung beberapa bab, tapi sewaktu adek kembar ane minjam laptop ane, dia udah minta ijin mau re-install. Katanya biar isi dan tampilannya lebih fresh. Ane memang gaptek masalah begituan, jadi ane iyain aja. Ane gak lupa bilang sama dia, naskah ane tolong jangan sampe hilang. Pindahin dulu ke tempat penyimpanan lain. Dia jawab iya. Lalu, yah... itu. Kalian pasti tau sendiri, saat laptop ane kembali, dokumen ane kosong. Tulisan ane ilang semua. Waktu itu kalau gak salah ane masih sering nulis-nulis kayak diary. Tapi, bukannya itu masih kategori penting. Buat ane, sih iya!
            Gimana harus ane tuangin kesedihan itu di sini? Lewat kejadian ini ane cuma mau, lebih sering lagi menulis. Ane gak mau kapok akan kejadian ini. Dan pelajaran juga buat ane dan teman-teman sekalian ke depan. Bahwa, jangan anggap sepele sekecil apapun hasil karya kita. Karna, karya yang besar itu juga berasal dari bentuk yang kecil kemudian melangkah menjadi yang sederhana, kemudian menjadi hits.
            Waktu yang terbuang sia-sia, naskah yang hilang sebelum dipublikasikan terlebih dahulu. Ane masih gak mau jauh-jauh dari bantal!